aimas – PLN Kebut Pembangkit PT PLN (Persero) kini mempercepat pembangunan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) untuk sepuluh tahun ke depan, hingga 2034.
Target ambisius ini tertuang dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, yang secara serius mengarah ke transisi energi.

Baca Juga : Bupati Sorong Janji Aspal Jalan Menuju Pasar Pujasera, Ultimatum Pedagangan Pasar Warmon Pindah
PLN memproyeksikan kenaikan kapasitas PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) hingga 17 GW—sekitar 10 kali lipat dari saat ini yang masih di bawah 1 GW.
Begitu pula dengan PLTB (pembangkit listrik tenaga bayu), yang ditargetkan mencapai 10 GW, jauh di atas ketersediaan eksisting.
Komposisi bauran EBT ini akan semakin kuat: PLTS, PLTA (air), PLTP (panas bumi), hingga bioenergi dan pembangkit nuklir.
Dari total tambahan 52,9 GW EBT, sebagian besar berasal dari PLTS (17,1 GW) dan disusul PLTA (11,7 GW).
Dengan realisasi ini, bauran EBT mencapai 76 % dari total tambahan kapasitas pembangkit—menjadi era paling “hijau” dalam sejarah RUPTL.
Sebaliknya, porsi energi fosil (gas dan batu bara) hanya sekitar 24 % dari penambahan kapasitas.
Secara bertahap, bauran EBT di jaringan listrik nasional juga diproyeksikan naik signifikan—dari sekitar 15,9 % di 2025 hingga mencapai 34,3 % pada 2034.
Proyeksi tersebut melebihi target RUKN (Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional) yang menetapkan sekitar 29,4 % EBT untuk tahun yang sama.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyebut ini sebagai “batu loncatan” penting menuju Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Namun, PLN menyadari bahwa transisi energi ini tidak bisa berhasil tanpa dukungan keuangan dan kebijakan dari pemerintah, regulator, dan sektor swasta.
Mekanisme pendanaan hijau—seperti green bonds dan investasi swasta—dipandang krusial untuk mendukung realisasi proyek EBT skala besar.
Distribusi EBT juga bersifat nasional: di Jamali (Jawa-Madura-Bali) dominan PLTS, sedangkan Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi fokus pada PLTA.
Ini adalah pendekatan terstruktur: lokasi proyek, kabupaten, dan tahun pelaksanaan EBT kini sudah diidentifikasi dengan detail.
Pada fase awal (2025–2029), penambahan sekitar 27,9 GW, termasuk 12,2 GW EBT dan sistem penyimpanan sebesar 3 GW.















