Breaking News
"Berita" adalah sajian informasi terkini yang mencakup peristiwa penting, fenomena sosial, perkembangan ekonomi, politik, teknologi, hiburan, hingga bencana alam, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Kontennya disusun berdasarkan fakta dan disampaikan secara objektif, akurat, dan dapat dipercaya sebagai sumber referensi publik.
Grab
Grab
Grabe Grabe Grabe

Masyarakat Adat Sedunia PMKRI Aimas Sorong Serukan Jaga Hutan dari Mafia Kayu

AIMAS – Pada peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia yang jatuh setiap 9 Agustus, berbagai elemen masyarakat menggelar refleksi dan seruan moral.

Salah satunya datang dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Aimas, Sorong, Papua Barat Daya.

PMKRI Aimas memanfaatkan momentum ini untuk menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi hutan dan hak-hak masyarakat adat.

Dalam orasi publik yang digelar di pusat kota Aimas, mereka menyerukan pentingnya perlindungan hutan adat dari perusakan.

Fokus utama seruan mereka tertuju pada keberadaan mafia kayu yang merambah hutan adat tanpa persetujuan masyarakat.

Menurut PMKRI, praktik pembalakan liar masih marak terjadi di Papua Barat Daya, meskipun sudah banyak regulasi yang melarangnya.

Koordinator aksi, Yustinus Fonataba, mengatakan bahwa masyarakat adat selama ini menjadi korban diam dari kerakusan para pengusaha kayu.

“Kami bukan anti pembangunan, tapi kami menolak perampasan ruang hidup,” tegas Yustinus dalam orasinya.

Ia menyebut bahwa banyak masyarakat adat tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan hutan.

Bahkan, dalam banyak kasus, dokumen persetujuan yang diklaim sah seringkali didapat melalui intimidasi atau manipulasi.

Masyarakat Adat Sedunia
Masyarakat Adat Sedunia

Baca Juga : Polda Papua Barat Daya Gelar GPM di Alun-Alun Aimas

PMKRI menilai, pemerintah daerah maupun pusat perlu lebih serius dalam menindak mafia kayu dan memperkuat posisi hukum masyarakat adat.

Mereka juga mendesak adanya pengakuan hukum formal atas wilayah adat yang hingga kini masih banyak yang belum disahkan secara legal.

Dalam aksinya, massa PMKRI membawa spanduk bertuliskan: “Tanah Adat, Jiwa Kami – Hutan Rusak, Kami Mati.”

Pesan tersebut menggambarkan kedekatan emosional dan eksistensial antara masyarakat adat dan alam tempat mereka hidup.

Aksi damai ini berlangsung tertib dan mendapat pengawalan dari aparat kepolisian setempat.

Beberapa tokoh adat juga turut hadir memberikan dukungan moril kepada para mahasiswa.

Kepala Suku Moi, Silas Kalami, dalam sambutannya menyebut generasi muda harus berdiri paling depan menjaga tanah warisan leluhur.

“Hutan bukan hanya kayu. Ia adalah sumber air, obat, dan tempat sakral kami,” ucap Silas penuh haru.

Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada PMKRI yang terus menyuarakan isu-isu adat di tengah dominasi kepentingan ekonomi.

Aksi tersebut juga diisi dengan pembacaan puisi, teatrikal, dan doa lintas iman sebagai simbol persatuan.

tokopedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *