Breaking News
"Berita" adalah sajian informasi terkini yang mencakup peristiwa penting, fenomena sosial, perkembangan ekonomi, politik, teknologi, hiburan, hingga bencana alam, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Kontennya disusun berdasarkan fakta dan disampaikan secara objektif, akurat, dan dapat dipercaya sebagai sumber referensi publik.
Grab
Grab
Grabe Grabe Grabe

Semangat Resolusi Jihad dalam Perang 10 November 1945

Aimas – Semangat Resolusi Jihad Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebuah momentum bersejarah yang lahir dari keberanian rakyat Surabaya melawan pasukan Sekutu pada tahun 1945. Namun di balik kobaran semangat arek-arek Suroboyo yang rela mengorbankan nyawa demi kemerdekaan, ada satu peristiwa penting yang menjadi api penyulut perjuangan: Resolusi Jihad yang digelorakan oleh para ulama, khususnya KH. Hasyim Asy’ari dan para santri Nahdlatul Ulama (NU).

Semangat Resolusi Jihad
Semangat Resolusi Jihad

Baca Juga : Suku Besar IMEKKO Kabupaten Sorong Deklrasi Dukung Program Prioritas Nasional Presiden Prabowo

Peristiwa 10 November 1945 bukan sekadar perang antara rakyat melawan penjajah. Ia adalah manifestasi dari keyakinan spiritual, nasionalisme, dan keberanian moral untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih. Di tengah kekacauan pasca-Proklamasi, Resolusi Jihad hadir sebagai pedoman perjuangan rakyat Indonesia agar tidak tunduk kembali pada penjajahan.


🔥 Awal Mula Lahirnya Resolusi Jihad

Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, situasi Indonesia masih belum stabil. Tentara Jepang memang menyerah kepada Sekutu, tetapi kekuatan Belanda yang tergabung dalam NICA (Nederlandsch-Indische Civiele Administratie) berusaha kembali menguasai Indonesia.

Di Surabaya, ketegangan meningkat ketika pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby mendarat pada akhir Oktober 1945 dengan alasan melucuti senjata Jepang. Namun rakyat menaruh curiga bahwa mereka membawa misi politik untuk mengembalikan kekuasaan Belanda.

Melihat kondisi ini, para ulama Jawa Timur merasa perlu mengambil sikap. Pada 21 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, mengeluarkan Resolusi Jihad setelah bermusyawarah dengan para kiai pesantren di Surabaya dan sekitarnya.

Isi utama Resolusi Jihad adalah:

“Berperang menolak dan melawan penjajah yang hendak kembali menguasai Indonesia hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berada dalam jarak 94 kilometer dari tempat musuh menyerang.”

Fatwa ini menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan bukan sekadar urusan politik, tetapi kewajiban agama.


⚔️ Dampak Langsung di Medan Perang

Setelah Resolusi Jihad disampaikan, semangat rakyat Surabaya meledak. Ribuan santri, pemuda, dan masyarakat desa berdatangan ke kota membawa senjata seadanya — dari bambu runcing, pedang, hingga senapan peninggalan Jepang.

Mereka menyatu dengan kelompok pejuang lokal seperti Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin Bung Tomo, serta berbagai laskar pemuda. Resolusi Jihad memberikan legitimasi moral dan spiritual bagi perjuangan rakyat, membuat mereka tak gentar menghadapi pasukan Sekutu yang jauh lebih modern.

Pidato-pidato Bung Tomo yang menggema lewat radio semakin mengobarkan semangat itu. Seruannya yang terkenal,

“Allahu Akbar! Merdeka atau mati!”
menjadi simbol keberanian rakyat Surabaya yang pantang menyerah.

Ketika Brigjen Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945, pasukan Sekutu membalas dengan serangan besar-besaran pada 10 November 1945. Perang berlangsung dahsyat, memakan ribuan korban jiwa di pihak Indonesia, namun semangat perlawanan tidak surut.


🕌 Peran Ulama dan Santri

Peran para ulama dalam perang ini sangat besar. Mereka tidak hanya memberi fatwa, tetapi juga turun langsung ke medan perang bersama para santri.

Di berbagai titik pertempuran seperti Jembatan Merah, Tugu Pahlawan, dan Jalan Pahlawan, para pejuang membawa takbir dan doa sebagai kekuatan batin. Mereka percaya, perjuangan melawan penjajah adalah bagian dari jihad fi sabilillah — membela kebenaran dan kemerdekaan umat manusia.

Nama-nama seperti KH. Mas Mansyur, KH. Wahab Hasbullah, dan KH. Zainul Arifin tercatat dalam sejarah sebagai ulama yang berperan besar membakar semangat perjuangan rakyat.

“Resolusi Jihad adalah bukti bahwa agama dan nasionalisme bisa bersatu. Ulama tidak hanya bicara di mimbar, tapi juga berjuang di medan laga,” kata sejarawan Universitas Airlangga, Dr. M. Suyatno.


🩸 Perang 10 November: Neraka di Surabaya

Pertempuran Surabaya dikenal sebagai salah satu pertempuran terbesar dan paling berdarah dalam sejarah perjuangan Indonesia. Pasukan Inggris yang dilengkapi tank, pesawat tempur, dan artileri berat menyerang dari berbagai arah.

Namun rakyat Surabaya tidak mundur. Mereka bertempur dari rumah ke rumah, gang ke gang, dengan semangat “lebih baik mati daripada dijajah kembali”.

Pertempuran itu berlangsung selama tiga minggu, menewaskan lebih dari 16.000 pejuang Indonesia, sementara di pihak Inggris sekitar 2.000 tentara gugur. Meskipun kota hancur dan banyak korban, semangat rakyat Surabaya menjadi simbol perlawanan nasional yang membangkitkan daerah-daerah lain di seluruh Indonesia untuk melawan penjajah.

tokopedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *